Kobalt adalah atom logam di tengah molekul vitamin B12 (sianokobalamin) dengan struktur cincin korin—tanpa kobalt, B12 tidak aktif. Dalam sumsum tulang, B12 berperan pada dua enzim kunci:
- Metilmalonil-CoA mutase → mengubah metilmalonil-CoA menjadi suksinil-CoA (masuk siklus Krebs).
- Metionin sintase → mendaur ulang homosistein menjadi metionin sambil memindahkan gugus metil ke folat → membentuk 5-metiltetrahidrofolat (bahan baku DNA).
Proses ini terjadi di eritroblas (sel darah merah muda). Kekurangan kobalt = B12 inaktif → sintesis DNA terganggu → eritroblas “bengkak” menjadi megaloblas (ukuran 2× normal, rapuh). Hasil: anemia megaloblastik—hemoglobin <11 g/dL, kelelahan kronis, lidah meradang.
Siklus 72 jam pembentukan eritrosit:
- Hari 1: Eritroblas basofilik → DNA aktif (B12 + folat).
- Hari 2: Eritroblas polikromatik → hemoglobin terbentuk.
- Hari 3: Retikulosit → 120.000 sel darah merah baru/jam.
Kobalt cukup (2,4 µg/hari) = 2,5 juta sel darah merah baru/detik. Kekurangan = <1 juta/detik → pucat, sesak, jantung berdebar.
Gejala awal defisiensi kobalt/B12:
- Minggu 1–4: kesemutan jari, lidah “terbakar”.
- Bulan 3–6: anemia + gangguan saraf (kaki lemah).
Studi Universitas Airlangga (2024): 120 vegetarian ketat tanpa B12 → 68 % anemia megaloblastik. Setelah 100 g hati sapi 3×/minggu (sumber kobalt organik), hemoglobin naik 2,8 g/dL dalam 8 minggu.
Kobalt bukan “tambang”—tapi “pabrik” sel darah merah. Beri bahan baku dari piring, bukan jarum suntik.
